Oleh: melanirahayuningsih | April 20, 2011

sistem pengetahuan dan teknologi lokal

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
System pengetahuan dan Teknologi Lokal, SPTL, yang secara netral dan dinamik di kalangan dunia barat biasa di sebut dengan istilah indigenous knowledge, IK. Dasar-dasar pengetahuan itu bersumber dari nilai-nilai tradisi dan adaptasinya dengan nilai-nilai dari luar.
Di Indonesia pemahaman terhadap apa yang disebut SPTL sebagaimana dimaksud dalam tulisan ini, tampak dalam beragamnya istilah yang digunakan, di antaranya ada yang menggunakan istilah system pengetahuan asli, system pengetahuan adat dan system pengetahuan tradisional. Cirri utama SPTL itu, bukanlah nilai-nilai keaslian, tetapi lebih menekankan pada aspek lokalitas atau territorial tertentu baik yang didukung system pengetahuan yang bersifat asli maupun yang telah beradaptasi dengan nilai-nilai dari luar. SPTL dengan demikian dapat dipahami sebagai seperangkat pengetahuan yang dimiliki masyarakat yang tinggal di suatu wilayah atau teritori tertentu, dengan dukungan teknologi tertentu sebagai sarana yang diciptakan untuk digunakan menopang kehidupannya sehari-hari.
Berdasarkan berbagai kajian di berbagai belahan dunia, ternyata system pengetahuan dan teknologi local yang kini mulai dipertimbangkan sebagai alternative dalam pembangunan, ternyata dapat menghubungkan tidak saja dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) modern.
Komponen-komponen SPTL memberikan suatu pemahaman mendalam tentang kehidupan masyarakat yang mengilhami pengembangan konsep kehidupan baru sejalan dengan kebutuhan baru yang dihadapi masyarakat. Sebagai upaya membangun kehidupan yang lebih berarti, yang sekarang system pengetahuan tersebut masih tampak dianut walaupun tidak utuh lagi dalam kehidupan masyarakat pedesaan dan di perkotaan.
Sebagai bagian dari kekayaan intelektual masyarakat, SPTL itu merupakan ungkapan budaya yang khas yang terkandung di dalamnya tata-nilai, etika, norma, aturan dan ketrampilan dari suatu komunitas dalam memenuhi tantangan keberlanjutan kehidupannya. Dewasa ini, SPTL banyak dipahami sebagai local level decision making, sebagaimana berlaku dalam bidang pengelolaan sumberdaya alam dan berbagai aktivitas sosial lainnya dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat.
Maka memahami SPTL dari berbagai lingkungan etnik di berbagai daerah di Indonesia, relevansi manfaatnya sangat penting dalam paradigm pembangunan yang lebih menekankan pada strategi demokrasi-partisipatif. Dimana system pengetahuan dan teknologi local dari berbagai belahan dunia telah mampu memberikan gambaran kepada kita mengenai kearifan tradisi masyarakat dalam mendayagunakan sumberdaya alam dan sosial secara bijaksana yang mengacu kepada keseimbangan dan kelestarian lingkungan.

B. IDENTITAS BUKU

Judul Buku : Dinamika Budaya Lokal
Tebal Buku : 162 Halaman
Penerbit : CV Indra Prahasta
Pengarang : Kusnaka Adimihardja
Tahun Terbit : 2008
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk :
1. Mengkaji lebih dalam mengenai kebudayaan local di Gunung Halimun
2. Mengetahui tentang system pengetahuan dan teknologi lokal
D. Manfaat Penulisan
1. Membantu penulis untuk mengenal tentang system pengetahuan dan teknologi local
2. Mendalami tentang Sistem Pengetahuan dan Teknologi Lokal yang digunakan oleh Masyarakat di Gunung Halimun

BAB II
RANGKUMAN BUKU
Sebagaimana dikemukakan tadi, istilah pengetahuan local digunakan semata-mata sebagai istilah teknis yang bersifat netral yang secara khusus dapat pula disebut sebagai ekspresi budaya local, yang dikalangan para ahli selalu dihubungkan dengan pengetahuan tradisional.
System Pengetahuan local sebagai ekspresi budaya, yang tercermin dalam berbagai bentuk ekspresi budaya berbasis tradisi, bersumber dari keragaman yang luas, mulai dari kebiasaan, adat-istiadat, bentuk ekspresi artistic, pengetahuan, kepercayaan, proses dari suatu produksi, dan ruang yang berasal dari banyak komunitas. Dikembangkan menjadi industry budaya dalam bidang seni, kerajinan tangan, turis-budaya, music, multimedia, penerbitan, arsitektur farmasi, tenunan, dan lukisan untuk fashion, yang secara rinci adalah sebagai berikut :
(a) Ekspresi yang bersifat verbal,bersumber dari mitologi, cerita rakyat, pantun, prosa, peribahasa, tanda, kata, nama, symbol dan indikasi seperti waktu dan arah
(b) Ekspresi music, antara lain bersumber dari music rakyat dan music instrumental
(c) Ekspresi gerak, bersumber dari tarian rakyat, sandiwara, drama, sendratari, dan bentuk-bentuk artistic atau ritual;
(d) Ekspresi nyata (tangible) seperti produksi kesenian rakyat dalam bentuk gambar, lukisan, pahatan, keramik, dan gerabah, mosaic, ukiran dari kayu, metal, perhiasaan, sulaman kain, permadani dan pakaian; kerajinan rakyat; instrument music; dan bentuk-bentuk arsitektur.
Istilah tradisi dalam system pengetahuan local sering dipahami banyak kalangan sebagai fenomena budaya yang bersifat imitasi dan reproduksi atas gagasan, kelembagaan, dan produk warisan budaya itu.
Dengan demikian, pengetahuan local dan tradisional termasuk di dalamnya ekspresi folklore sebagai gejala tidak bersifat isolasi atau imun dari pengaruh budaya lain dan akan berkembang terus sejalan dengan terjadinya kontak atau hubungan antar manusia secara regional,nasional, dan internasional, sekarang hubungan itu menjadi lebih terbuka dengan memanfaatkan hasil revolusi komunikasi dan transportasi.
SPTL sebagai warisan budaya, harus dipahami sebagai proses yang berkelanjutan yang menghasilkan berbagai gagasan, kelembagaan, dan produk yang bersifat kumulatif dan inovatif. Oleh karena itu, tradisi dapat dipandang sebagai energy untuk membangun kehidupan masa depan, sebagaimana dikemukakan para seniman, karya para seniman sebagai praktisi yang mengembangkan nilai-nilai dan produk yang bersumber dari warisan budaya harus terus membawa kesegaran pandangan dan pengalaman, dimana tradisi dapat menjadi kekuatan penting untuk kreativitas dan inovasi.
Kreativitas dan inovasi tersebut, ternyata saat ini tidak hanya penting dalam melindungi, memelihara, dan mengembangkan warisan budaya nenek moyang kita. Tetapi juga menjadi sumber inspirasi munculnya industry budaya yang secara fungsional berperan bagi pertumbuhan ekonomi dengan investasi yang tidak terlalu besar dan berpeluang untuk meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja bagi komunitas local.
Oleh karena itu, upaya peniruan maupun pengembangan untuk tujuan komersial berbagai bentuk warisan budaya dapat menimbulkan kontraproduktif. Eksistensi berbagai jenis warisan budaya itu terancam proses marginalisasi, selain tidak terjadi peningkatan pendapatan komunitas local yang memiliki dan menguasai sumber asli warisan budaya itu.
Warisan budaya tradisional sebagai sarana inspirasi kreativitas dan inovasi di luar konteks komunitasnya berdampak negative. Karena dapat menghancurkan eksistensi dari berbagai jenis warisan budaya itu, seperti banyak produk industry budaya Negara-negara berkembang bersumber dari warisan budaya, menghasilkan pangsa pasar yang signifikan bagi Negara-negara maju. Namun, komersialisasi melalui transfer lintas budaya itu tidak mendatangkan keuntungan bagi komunitas local yang memiliki dan mewarisi budaya itu.
Mencermati fenomena itu, banyak kalangan mengajukan keberatan atas representasi berbagai jenis warisan budaya itu digunakan siapa pun yang antara lain tanpa ijin. Agar Indonesia dapat memanfaatkan industry budaya secara berdaya guna, maka perlu segera mendapat prioritas menyusun aturan perlindungan yang memihak pada komunitas local yang memiliki dan menguasai warisan budaya tersebut.
Kreativitas dapat membantu meningkatkan pendapatan dengan mengkombinasikan tradisi dan kreatifitas. Keadaan ini menggambarkan kemampuan di kalangan komunitas local yang menekankan pada “tradisi” dengan pengaruh dan karakteristik modern sebagai upaya mempertahankan identitas diri, lingkungan sosial, dan ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan.
Program pengembangan warisan budaya, apabila dilakukan secara tepat dan terarah dalam aktivitas dan perlindungan hukumannya dapat dijadikan kekuatan ekonomi yang mampu memberikan sumbangan mengurangi kemiskinan, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyrakat.
Manusia dalam mempertahankan survivalnya menggunakan akal, perasaan dan pengalaman hidup untuk bisa memahami lingkungan dalam memanfaatkan sumberdaya alam dan sosial bagi keberlanjutan kehidupannya. System pengetahuan dan teknologi yang spesifik itu disebut sebagai system pengetahuan dan teknologi local. (Warren & Cashman, LIED Gatekeeper, SAI 10).
Daya adaptasi yang efektif dari system pengetahuan itu telah membawa sedemikian rupa perkembangan kehidupan umat manusia melebihi makhluk hidup lainnya dalam meningkatkan mutu peradaban. Dalam banyak hal tidak diragukan kemampuan manusia manusia dalam menunjang keberlanjutan kehidupannya. System pengetahuan itu secara terus menerus disempurnakan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam system kepercayaan masyarakat purba dan masyarakat masa kini yang masih memegang tradisi yang kuat misalnya, alam sangat dihormati bahkan dipujanya. Peradaban manusia yang semakin berkembang sejalan dengan perkembangan IPTEK yang bersumber dari dunia barat saat ini, tampaknya semakin lepas dari akar system pengetahuan local. Perkembangan IPTEK itu sejalan dengan pandangan hidup yang semakin mengutamakan aspek duniawi.
Di sisi lain hal tersebut telah pula menimbulkan kekhawatiran dan persaingan bahkan konflik antara kelompok dan antar bangsa dalam memanfatkan sumberdaya alam. Tampaknya, sebagian kalangan umat manusia abad modern ini banyak yang tidak lagi menyadari bahaya pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak lagi menyadari bahaya pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak terkendali dan tidak memperdulikan kelestarian lingkungan serta mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dari manusia lainnya yang lebih lemah posisinya.
Dalam aspek pertanian, dimana penggunaan teknologi pertanian modern dalam perkembangan pertanian, yang dikenal dengan sebutan “revolusi hijau”, diakui dapat meningkatkan produksi pertanian secara cepat. Meningkatnya perhatian petani terhadap penggunaan padi varietas baru, menyebabkan ditinggalkannya kebiasaan menanam padi varietas local yang relative lebih unggul dalam menghadapi ganguan hama, selain dalam waktu singkat terjadi erosi genetic varietas padi local itu.
Penerapan teknologi modern di bidang pertanian telah pula mengakibatkan menyempitnya lapangan kerja di desa baik bagi laki-laki maupun perempuan dan melebarnya jurang perbedaan kelas sosial. Selain itu, terjadi pula menurunnya fungsi hubungan “patron-client” antara petani kaya dengan petani penggarap, dan kemudian mengalirlah kalangan muda laki-laki dan perempuan desa ke kota menjadi tenaga-tenaga murah di pabrik-pabrik yang sekarang mengalami hubungan pemutusan kerja (PHK).
SPTL sebagai fenomena budaya terletak dalam kesadaran individu, komunitas, bahkan merupakan identitas nasional dari suatu bangsa. Sekarang, SPTL menjadi perbincangan internasional pula, karena terjadinya pertukaran budaya yang bersifat antarnegara yang dipicu oleh perkembangan keragaman kreatifitas manusia secara global.
Kearifan local dan keragaman hayati di sekitar Gunung Halimun dimana masih terdapat penduduk yang hidup dalam ikatan adat tradisional, mereka menamakan dirinya warga kasepuhan. Dalam setiap tahap aktivitasnya selalu didahului berbagai upacara, diantaranya adalah upacara ngaseuk dan mipit, suatau upacara yang mengawali masa tanam dan panen di lading.
Kedua bentuk upacara tersebut dilakukan pada pupuhunan, yang merupakan tempat di arah selatan areal perladangan. Dalam kepercayaan mereka pupuhunan dipandang sebagai pusat alam jagad raya, tempatt dimana dipertemukannya Dewi Sri dengan tanah. Pandangan itu memiliki aspek simbolik, yaitu mempersatukan makro dan mikro kosmos, sebagai upaya memelihara keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungan alamnya.
Dalam beberapa tulisan iceritakan bagaimana luhurnya kedudukan Dewi Sri sebagai Dewi Padi dalam pandangan masyarakat Sunda masa lalu. Perwujudan keyakinan masyarakat tersebut, tampak dalam setiap aktivitas menanam dan memelihara padi di huma “ladang” atau di sawah selalu didahului suatu upacara untuk meminta izin kepada nenek moyang agar usaha tani masyarakat berhasil dengan memuaskan.
Warga kasepuhan yang bermukim di sekitar Desa Sirnarasa di wilayah Sukabumi Selatan melaksanakan upacara yang mereka anggap sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, yaitu upacara ngaseuk dan mipit. Upacara tersebut biasanya dipimpin oleh seorang tokoh adat atau dukun tani dari kalangan warga kasepuhan. Kedua upacara tersebut dilaksanakan di kalangan warga kasepuhan dalam mengawali menanam dan memanen padi.
Pengertian kasepuhan dalam konteks tulisan ini, mengacu kepada suatu pemahaman terhadap suatu kelompok, dimana semua aktivitas sosial warganya masih berazaskan pada adat istiadat lama sebagai warisan nenek moyangnya. Adat istiadat lama antara lain dalam melaksanakan tata cara menanam dan memlihara padi, khususnya yang mereka lakukan di huma “ladang”. Dalam bahasa Sunda, kata ka-sepuhan berasal dari akar kata “sepuh” diberi awalan “ka” dan akhiran “sepuh” berarti “tua” dalam bahasa Indonesi. Bagi warga kasepuhan, pupuhunan tersebut berfungsi sebagai tutuwuhan atau disebut pula sebagai pancer, dalam bahasa Indonesia disebut “patokan” atau “pusat”.
Pada malam hari mengawali upacara ngaseuk maupun mipit, di rumah salah seorang pimpinan adat warga kasepuhan dilakukan selamatan yang dihadiri para tokoh adat lainnya dan warga kasepuhan dari berbagai kampong di sekitar tempat dilaksanakannya selamatan tersebut. Mereka berkumpul untuk mengirim doa kepada para karuhun “nenek moyang” agar mereka memperoleh perlindungan dalam melaksanakan kegiatan ngaseuk dan mipit, kemudian dilanjutkan makan bersama.
Menjelang larut malam acara dilanjutkan dengan mendengarkan kisah ngaseuk yang dituturkan oleh seorang juru pantun warga kasepuhan, dengan irama ucapan yang khas yang iringi dentingan bunyi kecapi. Pada waktu subuh menjelang pagi hari, sekitar pukul lima, secara diam-diam agar tidak diketahui umum, pimpinan adat tersebut bersama isterinya pergi bergegas ke huma dengan menggunakan pakaian terbagus yang mereka miliki. Keduanya berjalan cepat menuju pupuhunan yang sudah dipersiapkan untuk melakukan doa amit dengan menggunakan ngaseuk agar mereka dan semua warga kampong terlibat dalam kegiatan tersebut memperoleh berkah, tanaman terhindar dari hama dan diharapkan memperoleh hasil yang memuaskan.
Selanjutnya, setelah upacara itu selesai, secara serempak semua warga kampung bersama-sama mulai menanam padi sebagai manifestasi dari kehidupan gotong royong. Di kalangan warga kasepuhan, pupuhunan adalah suatu areal lahan, yang luasnya sekitar satu meter persegi berbentuk bujur sangkar, yang setiap sisinya dibatasi dengan belahan bamboo. Dalam kolom bujur sangkar itu disimpan sedikit benih padi, yang disebut coo benih. Setelah tokoh adat berakhir menyampaikan doa amit dan mengucapkan mantera, coo binih itu disatukan kembali dalam sebuah boboko “bakul” yang terletak di luar kolom bujur sangkar tersebut.
Ditengah kotak bujur sangkar tersebut ditancapkan sebuah aseuk “tongkat” yang panjangnya sekitar 1,50 M. Adapun berbagai perlengkapan upacara lain yang ada di sekitar pupuhunan tersebut antara lain : pohon har juang; jawer kotok; tepus; binbing; pelepah rota.
Setelah upacara di hadapan pupuhunan itu berakhir, sebagai pengganti paseuk ditancapkan sebatang bamboo tamiang setinggi 2,5 M ditengah bujur sangkar itu yang berfungsi sama sebagai pancer. Di kalangan warga kasepuhan tidak pernah dilakukan upacara apapun di sawah, oleh karenanya semua aktivitas di sawah mengacu pada aktivitas ladang, khususnya dalam melaksanakan berbagai upacara menghormati dewi padi.
Bagi warga kasepuhan berladang merupakan kegiatan yang sangat penting, baik secara sosial maupun kepercayaan, karena landasan organisasi sosial mereka dengan dukungan berbagai upacara tersebut membentuk kelompok tani yang berfokus kepada pola kebudayaan ladang berpindah-pindah. Bagi mereke berladang merupakan perekat eksistensi warga kasepuhan sebagai suatu kelompok sosial. Bagi mereka padi bukan hanya sekedar makanan pokok, tetapi juga dalam pandangan mereka sebagai benda suci, yang dalam mitologi mereka dilukiskan sebagai Dewi Sri yang dipersonifikasikan dalam kehidupan mereka sebagai indung pare “ibu padi”.
Secara terbatas berladang masih tetap mereka lakukan, menurut ungkapan mereka sebagai syarat untuk memenuhi perintah adat. Hal ini dimanifestasikan dengan kata-kata, amanat nenek moyang yang wajib dilaksanakan dalam memelihara apa yang mereka sebut sebagai tatali paranti karuhun “kebiasaan adat nenek moyang”. Pada setiap tahapan upacara tersebut wajib diikuti oleh seluruh warga kasepuhan agar mereka memperoleh perlindungan makhluk baik dan terhindar dari gangguan makhluk jahat, dalam isitilah mereka sebut kabendon.
Bagi mereka upacara tersebut memiliki fungsi sosialreligius dimana kegiatan tersebut sebagai upaya menguasai alam, agar terjadi hubungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dengan lingkungan alam dimana mereka hidup. Harmonis tersebut dimanifestasikan dengan hasil panen yang berlimpah. Di kalangan warga kasepuhan, pupuhunan dipahami pula sebagai tempat yang dianggap suci sebgai tempat yang memepersatukan Dewi Sri dengan tanah.
Bagi warga kasepuhan, tugas seorang sesepuh “tokoh adat” yang merupakan pemimpin sosioreligius mereka, adalah menjadi panutan. Pemimpin bertugas membimbing setiap warganya untuk memahami tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyrakat, menurut ungkapan mereka seorang pemimpin itu nu digugu-ditiru “yang diikuti dan ditiru perilakunya.” Kondisi rasa manunggal itu dapat dicapai apabila manusia mampu menyelaraskan hal-hal yang bertentangan dalam keseimbangan emosi “dorongan berperilaku”, seperti kondisi baik/buruk, bahagia/sengsara, kasar/halus dan seterusnya.
Konsep pupuhunan yang menjadi landasan serta ajaran moral dalam mengatur hubungan warga kasepuhan sebagai suatu kelompok tani desa hutan dengan hal-hal yang bersifat gaib, dimana mereka tetap mencoba mempertahankan identitas dan keyakinannya dalam dunia yang penuh berbagai gejolak perubahan itu. Berbagai perubahan dari peraturan itu akan mendorong eksistensi institusi local komunitas adat yang lebih kokoh dan jauh lebih efisien dalam peran serta mereka menyelamatkan sumberdaya alam dari kehancuran tangan jahil orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Hal tersebut biasanya tidak dipahami dikalangan pendatang karena bersifat spesifikasi local, seperti kebiasaan orang Dayak membakar lahan untuk perladangan ditiru para pendatang namun teknologi pengendalian api tidak dikuasainya, yang terjadi adalah kebakaran hutan dan biasanya tudingan selalu tertuju pada para peladang local.
Perlu disadari bahwa system pengetahuan dan teknologi local itu, jangan dipahami sebagai suatu system pengetahuan yang tuntas dan sempurna. Seharusnya dipahami adalah system pengetahuan dan teknologi local itu merupakan suatu yang dinamis dan berkembang terus sejalan dengan tuntutan kebutuhan manusia. Selain itu, perlu pula upaya tersebut dapat dipandang sebagai usaha untuk revitalisasi dan reinterprestasi dari semangat kekayaan budaya local itu. Dimana selama ini terabaikan dari perhatian berbagai kalangan dalam mengembankan model pengelolaan alternative sebagai upaya konservasi semberdaya alam untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.
Bustami Rahaman, mengemukakan bahwa nilai cultural, cultural value, member warna terhadap proses diferensiasi agrarian di Jawa. Polarisasi dan stratifikasi dalam proses diferensiasi agrarian bukan karena perubahan ekonomi dan teknologi,namun pengaruh system nilai budaya dan lingkungan sebagai produk sejarah yang panjang, di mana desa Abangan cenderung membentuk kea rah polarisasi dan desa Santri ke arah stratifikasi dalam proses peralihan pemilikan dan penguasaan lahan di desa Jawa.
Dalam melakukan eksploitasi SDA, system pengetahuan dan daya adaptasi penggunaan teknologi akan selalu disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam serta system distribusi dan pengalokasian hasil eksploitasi tersebut. Bagong Suyoto mengungkapkan kepercayaan yang berkembang di kalangan penduduk Lampung keturunan Jawa dalam bentuk ritual sebagai upaya menguasai sumber alam sejak masa proses pembenihan padi.
Ritual yang dilakukan warga kasepuhan di sekitar Gunung Halimun yang disebut upacara pupuhunan dilaksanakan dalam mengawali kegiatan menanam, ngaseuk, dan panen,mipit di ladang. Pupuhunan tersebut berfungsi pula sebagai patokan atau pusat di mana mulai menanam dan memanen yang dipahami mereka sebagai symbol dari awal dan akhir kehidupan manusia itu sendiri. System perladangan pada kelompok sosial tersebut merupakan cara mengelola lahan dalam suatu siklus pertanian yang teratur dan tertib.
Manfaat yang dapat dipetik dari kearifan system pertanian ladang di kalangan komunitas adat itu dalam moderenisasi pertanian dan swasembada pangan di masa depan dengan mengembangkan system pertanian lahan kering yang modern bersifat polikultural bukan monokultural dalam bentuk menetap tidak berpindah-pindah lagi, dengan memperhatikan siklus dan kalender bertani komunitas adat.
Lembaga ekonomi rakyat yang berakar pada nilai budaya, selain mampu mengembangkan system distribusi hasil panen yang adil, di kalangan orang Baduy dan warga kasepuhan dikenal adanya “lumbung umum”. Lumbung desa sebagai kelembagaan ekonomi komunitas desa, sewajarnya saat ini direvitalisasi karena manfaatnya yang masih relevan dalam pengembangan ekonomi desa sebagai landasan strategi pengamanan logistic lapangan penduduk dalam model pendekatan pembangunan manusia seutuhnya.
Dari berbagai uraian tentang kearifan local tersebut, agaknya strategi pengelolalaan sumberdaya alam yang bersifat makro selama ini seyogyanya beralih ke model pengelolaan yang bersifat mikro dengan mempertimbangkan keragaman budaya masyarakat. Dengan demikian pendekatan mikro dalam pengelolaan sumberdaya alam harus mengakomodasikan keragaman budaya, Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia sejalan dengan konsep pemberdayaan masyarakat dalam agenda Otonomi Daerah.
Sekarang ini partisipatif merupakan kata kunci yang penting dalam mengembangkan paradigma pembangunan yang berbasis masyarakat. Dalam paradigma partisipatif, aktivitas pembangunan lebih menekankan peran masyarakat itu sendiri. Dimana mereka dituntuk memiliki kapasitas meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal sebagai suatu komunitas local. Dengan demikian mereka sanggup untuk melakukan control terhadap sumberdaya hayati melalui pengakuan hukum atas hak penguasaan di sekitar wilayah di mana mereka tinggal.
Strategi partisipasif dalam pembangunan itu dikembangkan sebagai reaksi atas kegagalan paradigma modernisasi. Dimana paradigm tersebut lebih menekankan strategi pembangunan pada biaya, teknologi, dan tenaga ahli dari luar. Oleh karena itu, dalam melaksanakan strategi partisipasif dibutuhkan reorientasi dalam memahami pembangunan yang lebih menekankan pada mobilitas sumber-sumber sosial, ekonomi, politik, untuk kepentingan masyarakat. Desentralisasi penanganan masalah-masalah, melalui strategi partisipasi menjadi isu penting dalam kurun waktu yang akan datang.
Pembangunan yang berbasis masyrakat lebih menekankan kepada peberdayaan yang mengakomodasikan inisiatif dari masyarakat itu sendiri. Menurut Korten (1992) ada tiga perubahan structural dan normative yang harus dilakukan dalam paradigma pembangunan yang berbasis masyarakat :
1. Memusatkan pemikiran dan kebijakan pemerintah yang mampu mendorong dan mendukung aktivitas masyarakat
2. Mengembangkan kelembagaan sosial yang berfungsi mendorong aktivitas masyrakat menurut kaidah swa-organisasi
3. Mengembangkan system produksi-konsumsi yang diorganisasikan secara territorial yang berlandaskan pada kaidah penguasaan atau pemilikan dan pengendalian secara local.
Korten dan Carner menyatakan bahwa pembangunan yang berwawasan produksi lebih memusatkan perhatian pada, antara lain :
1. Industry dan bukan terhadap pertanian, yang merupakan kegiatan mayoritas penduduk dunia
2. Daerah perkotaan dan bukan daerah pedesaan yang merupakan gudangnya sumberdaya alam
3. Pemilikan asset produktif yang terpusat dan bukan pemilikan asset produktif yang meluas
4. Investasi pembangunan lebih menguntungkan kelompok yang sedikir manusia yang optimal
5. Pemanfaatan SDM dan lingkungan untuk mencapai peningkatan keuntungan jangka pendek dan bukan untuk meningkatkan mutu atau kualitas SDA dan lingkungan itu sendiri dengan nilai tambah bagi semua.
Hal ini berdampak terhadap perlunya restrukturisasi rencana pembangunan pada tatanan mikro dan makro agar komunitas local dapat mengembangkan potensi tanpa mengalami hambatan yang bersumber dari factor eksternal.
System pengetahuan dan teknologi local sebagai bagian dari kebudayaan manusia tidak berifat statis, namun bersifat dinamis. Komponen-komponen system pengetahuan dan teknologi local itu memberikan suatu pengertian yang mendalam bagi komunitas itu serta dapat mengilhami pengembangan konsep baru sejalan dengan kebutuhan baru yang dihadapi suatu komunitas local tersebut.
System pengetahuan dan teknologi local yang harus dipahami dan dikembangkan terus dalam memelihara kelestarian lingkungan dan sumber hayati hutan, antara lain dapat dikemukakan tentang kemampuan komunitas local mengelola system alami hutan, memelihara dan menjaga keberlanjutan persediaan air, oksigen, karbon, kesuburan tanah, cara mengelola pangan yang bersumber dari tanah, air, membuat obat alami serta memelihara kekayaan genetic yang berdampak terhadap terpeliharanya kualitas sumberdaya hayati hutan.
Di kalangan komunitas kasepuhan di sekitar Gunung Halimun Jawa Barat, mereka berkeyakinan kehidupan kehidupan di dunia ini akan langgeng bila mereka memperhatikan konsep keteraturan dan keseimbangan dalam melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.
Dengan demikian, mengembangkan model konservasi serta pemanfaatan bagi kehidupan masyarakat dala paradigma partisipasi, menurut Perret (1992) ada sembilan prinsip yang harus diidentifikasi, meliputi :
1. Menghargai dan memelihara kebiasaan hidup komunitas local
2. Memperbaiki mutu kehidupan komunitas itu sendiri
3. Melestarikan daya hidup dan keragaman hayati
4. Meminimalkan penipisan SDA yang tidak dapat diperbaharui
5. Mempertahankan batas daya dukung bumi
6. Mengubah sikap dan tindakan pribadi
7. Meningkatkan kemampuan komunitas local untuk memelihara lingkungan dan pelestarian
8. Mengembangkan terus aliansi global
Pendekatan partisipasif harus dipandang sebagai strategi mengembangkan kerjasama yang erat antara perencana pembangunan, pendamping pembangunan, dan masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan, dan mengembangkan terus dari hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai itu.
System pengetahuan dan teknologi local itu dirasakan sangat penting dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari seperti dalam bidang pertanian, irigasi, kesehatan, pendidikan, pengadaan pangan, dan seterusnya.
Kearifan tradisi yang tercermin dalam system pengetahuan dan teknologi local di berbagai daerah secara dominan masih diwarnai nilai-nilai adat sebagaimana tampak dari cara-cara mereka melakukan prinsip-prinsip konservasi, managmen, dan eksploitasi sumberdaya alam. Hal ini tampak jelas dari perilaku mereka yang memiliki rasa hormat begitu tinggi terhadap lingkungan alam yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. System pengetahuan dan teknologi mereka selalu disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam serta system distribusi dan alokasi produk-produk tersebut. Pendekatan ini jelas mempererat jalinan kepuasaan semua pihak tanpa berlebihan.
Di kalangan orang Kasepuhan yang bermukim di sekitar Gunung Halimun memiliki kearifan tradisi dalam mengelola SDA di hutan, ladang, sawah, kebun, sungai melalui pembagian zona pengelolaan sumberdaya hutan. Mereka membagi ruang hutan menjadi tiga klasifikasi yang masing-masing memiliki fungsi konservasi dan secara seimbang mendukung kehidupan manusia. Pertama, hutan atau leuweung tutupan yang boleh dieksploitasi manusia hanya berupa produk hutan saja. Kedua, leuweung titipan berupa hutan cadangan yang boleh digunakan atas seijin pimpinan adat. Ketiga, leuweng sampalan yang berfungsi untuk ladang, kebun, sawah dan pemukiman.
Dengan system pengetahuan dan teknologi yang dimiliki orang Kasepuhan di sekitar wilayah Gunung Halimun, mereka sekarang mampu menjaga atau menyelamatkan sekitar 1000 jenis flora, 204 jenis burung termasuk Elang Jawa, 55 jenis mamalia besar diantaranya Java Gibbon dan lain-lain.
Bagi orang Dayak di Kalimantan Timur, praktek perladangan hanya boleh dilakukan secara adat di wilayah yang disebut umaq taunt, yakni “hutan persediaan”. Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa berladang dan berkebun di kalangan orang Dayak, kasepuhan dan Baduy di Banten Selatan merupakan cara bertani lahan kering yang mempertahankan karakteristik ekosistem hutan, dimana berdampak terhadap kegiatan yang dapat membantu melestarikan keragaman hayati plasma nutfah dan jenis tumbuhan hutan lain.
Bagi komunitas adat, tanah adalah kebutuhan dasar yang paling substansial sebagai symbol dari eksistensi suatu komunitas adat yang bersifat magis dan sacral. Oleh karenanya, mereka memiliki kearifan tersendiri dalam menata lingkungan alam sesuai dengan konsep pandangan kosmik, cosmovision, yang terbentuk, seperti dalam mengelola lahan untuk ladang, sawah, kebun, dan seterusnya.
Implikasi kebijakan pembangunan yang dicomot dari teori moderenisasi barat, ternyata semakin lama semakin mendominasi pola pikir di kalangan masyarakat saat ini. Dengan demikian, strategi pembangunan yang dilaksanakan selama ini mengabaikan system pengetahuan dan teknologi local yang merupakan refleksi nilai-nilai budaya masyarakat.
Dalam menghadapi berbagai dilemma dehumanisasi dalam berkelanjutan nilai-nilai universal yang manusiawi sebagai dampak kebijakan nasional masa lalu yang mengingkari paham “bhineka tunggal ika,” dan terjadinya proses globalisasi yang menganut paham kapitalisme tunggal. Maka pilihan bagi Indonesia yang termasuk negara miskin saat ini adalah melakukan revitalisasi dan reinterprestasi system budaya local, sejalan dengan itu dilakukan revitalisasi aturan-aturan nasional dan local yang menjadi panduan birokrasi dan stakeholders berperilaku.
Dalam pengelolaan sumberdaya alam, misalnya, di kalangan masyarakat yang merujuk nilai-nilai adat, biasanya sangat memperhatikan kelestarian dan keseimbangan lingkungan sebagaimana yang dimanifestasikan dalam system kepercayaan masyarakat masa lalu dan masa kini yang masih hidup dalam lingkungan tradisi yang kuat seperti menghormati dan memuja alam, dewa-dewa dan totemisme yang disertai tabu membunuh atau memakan hewan atau jenis tumbuhan tertentu.
Agaknya saat ini hubungan keseimbangan manusia-alam-ilmu pengetauan dan teknologi secara bersama perlu dirumuskan kembali di kalangan masyarakat local, nasional dan dunia. Oleh karenanya, pengembangan nilai-nilai budaya local sebagai upaya membangun identitas diri yang disebut Budaya Indonesia yang nyata dan beragam. Sesungguhnya, multikulturalisme dan nasionalisme tidak mempunyai hubungan yang jelas, tetapi penekanan pada salah satu akan mengurangi arti dari yang lainnya. Sejalan dengan kesepakan masyarakat dunia yang terus menerus diaktualisasikan melalui berbagai pertemuan puncak dan secara nasional melalui otonomi daerah untuk melaksanakan amanah pembangunan manusia yang berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan yang adil dan beradab.
Dalam upaya melindungi dan mengembangkan kekayaan intelektual komuniti local telah terjadi berbagai konflik antar Negara. Konflik itu sehubungan dengan disetujuinya di kalangan para anggota World Trade Organization,WTO, menyangkut berbagai konflik antar Negara. Indonesia merupakan salah satu contoh Negara yang sangat kaya keanekaragaman budayanya dalam wujud keanekaragaman system pengetahuan dan teknologi lokalnya. Hal ini tampak dari karakteristik berbagai macam suku, bahasa dan kepercayaannya. Salah satu kekayaan tradisional bangsa Indonesia yang dikenal luas dipasaran dunia, antara lain batik dan tenun ikat Sulawesi.
Namun saying, kekayaan melimpah dalam keanekaragaan hayati tersebut belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah, khususnya dalam perlindungannya, antara lain terhadap pengetahuan local dan tradisional di bidang pengobatan. Sebagaimana terungkap dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara, dimana terjadi pencurian oleh orang asing antara lain terhadap ramuan obat kanker, secara turun temurun yang dimiliki masyarakat Dayak Benuaq. Kejadian itu setidaknya menunjukan masih kurangnya perlindungan pemerintah terhadap system pengetahuan dan teknologi local di Indonesia, khususnya dalam bidang design dan obat-obatan tradisional.
Berbagai jenis kekayaan intelektual tradisional lainnya yang terdapat di Indonesia, antara lain dalam bentuk pengetahuan tentang upacara adat, arsitektur local, kalender pertanian, pola pengelolaan sumberdaya alam di darat, hutan, dan laut, pengetahuan tentang hama dan penyakit tanaman, dan lain-lain. Mungkin saja berbagai jenis pengetahuan dan teknologi tersebut, sebagaimana dikemukakan telah banyak yang “dicuri” oleh para peneliti yang berdatangan ke berbagai kawasan dengan berbagai alasan, walaupun belum ada data-data akurat tentang hal itu.

BAB III
ANALISIS
Kawasan ekosistem Halimun merupakan satu-satunya kawasan di Pulau Jawa bagian barat yang masih memiliki kekayaan ekosistem hutan hujan tropis , yang juga merupakan salah satu penyangga/pendukung penting sistem kehidupan mengingat fungsinya sebagai kawasan resapan air (water-catchment area) terutama yang berhubungan dengan ketersediaan sumberdaya air di tiga propinsi (Jawa Barat, DKI Jakarta dan Propinsi Banten). Kekayaan lainnya adalah kandungan bahan tambang yang bernilai ekonomi tinggi seperti emas, bentonit, kapur, dll yang dilirik dan diperebutkan banyak pihak sehingga menimbulkan konflik multipihak. Merunut kepada sejarah, kawasan Halimun awalnya dikuasai oleh Kerajaan Sunda Padjadjaran yang kemudian diambil alih oleh Kerajaan Mataram sejak tahun 1620 – 1677 M.
Pada masa kerajaan-kerajaan ini, semua kekayaan alam dikuasai oleh raja untuk membangun kerajaan yakni dengan cara meminjamkan tanah kepada para bangsawan dan membayar pajak/upeti setiap tahunnya kepada raja. Pada abad ke 16, masa penjajahan (kolonialisme) pun mulai digelar, perebutan rempah-rempah pun dilakukan oleh VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie)yang kemudian mulai mengambilalih posisi resmi sebagai penguasa seutuhnya. Sistem tanam paksa, penetapan pajak dan kerja rodi pun harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan memudahkan proses distribusi hasil bumi tersebut.
Seiring dengan perkembangan, pada pasca masa Orde Baru telah lahir sebuah kebijakan destruktif berupa Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 175/KptsII/2003 tentang Perluasan Wilayah Kelola TNGH menjadi 113.357 ha dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGH-S). Dasar pertimbangan yang diambil oleh pemerintah dengan dikeluarkannya SK tersebut adalah kawasan hutan yang berada di Gunung Halimun Dan Gunung Salak merupakan kesatuan hamparan hutan dataran rendah dan pegunungan yang mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi, sumber mata air bagi kepentingan kehidupan masyarakat sekitarnya yang perlu dilindungi dan dilestarikan.
Kekayaan ekosistem ini juga dilengkapi dengan kekayaan nilai sosial-budayaekonomi. Selain masyarakat lokal, di bagian Selatan kawasan terdapat dua komunitas suku Sunda yang tetap mempertahankan adat, hukum adat dan tradisi budaya leluhur mereka dalam pengelolaan sumberdaya alam dan kehidupan sehari-hari, yaitu Masyarakat Kanekes dan Kasepuhan Banten Kidul. Sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, masyarakat Halimun tidak bisa dipisahkan dari sumberdaya hutan. Hal ini ditunjukkan dengan pengetahuaan dan pengelolaan kawasan hutan secara “zonasi” adat, yaitu:

o Leuweung Kolot/Geledegan/Awisan adalah kawasan mata air yang sama sekali tidak dapat diganggu untuk kepentingan apapun, harus selalu dijaga. Ada kepercayaan bahwa leuweung ini dijaga oleh hal yang tidak tampak oleh mata, siapa yang melanggarnya pasti akan tertimpa kemalangan (kabendon).
o Leuweung Titipan adalah suatu kawasan hutan yang diamanatkan oleh leluhur Kasepuhan Banten Kidul kepada para incu putu (warga Kasepuhan) untuk menjaga/tidak mengganggu kawasan hutan ini. Masyarakat percaya apabila ada yang memasuki kawasan ini tanpa seizin sesepuh maka akan mengalami gangguan secara gaib atau kualat (kabendon)dari leluhur. Dan ditegaskan pula bahwa pemerintah harus ikut menjaga kelestarian kawasan ini. Salah satu pihak swasta yang terdapat di kawasan ini adalah PT. Ciangsana yang mulai beroperasi sejak tahun 1973 di desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Pada tahun 1992, izin yang diberikan kepada PT. Ciangsana dibeli oleh PT Nirmala Agung 23 dengan HGU total seluas 971,22 -yang terdiri dari 4 afdeling -selama 24 tahun (terhitung sejak 1973). Pada akhir tahun 1997, mengingat masa HGU akan berakhir, PT. Nirmala Agung mengajukan perpanjangan HGU selama 25 tahun kedepan.
o Leuweung Bukaan atau sampalan adalah suatu kawasan hutan yang sekarang telah terbuka dan dapat digarap oleh masyarakat dan masih dikelola untuk sawah, huma 7 dan kebun. Berdasarkan sejarah, kawasan ini telah dibuka sejak tahun 1902 sampai tahun 1941 – 1942.
Halimun secara semantik dalam bahasa Sunda berarti kabut. Kawasan Ekosistem Halimun adalah kawasan pegunungan yang selalu diselimuti kabut. Halimun memiliki berbagai keunikan dan keragaman yang khas, baik dari sisikekayaan biofisik, sistem sosial dan budaya masyarakat adat atau masyarakat lokal lainnya yang bermukim dan menjaga serta mengelola sumberdaya alam.
Dalam website Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) disebutkan bahwa TNGH merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah, hutan sub-montana dan hutan montana di Jawa. Hampir seluruh hutan di Taman Nasional ini berada di dataran pegunungan dengan beberapa sungai dan air terjun yang merupakan perlindungan fungsi hidrologis di Kabupaten Bogor, Lebak, dan Sukabumi. Beberapa pegunungan yang ada di bagian Barat kawasan ini adalah Gunung Pameungpeuk (1455 m), Gunung Ciawitali (1530 m), Gunung Kencana (1831 m), Gunung Halimun Utara (1929 m) Gunung Sanggabuana (1919 m), dan Gunung Botol (1850 m). Di bagian Timur laut ada Gunung Kendeng (1764 m), Gunung Pangkulahan (1115 m), Gunung Panenjoan (1350 m), and Gunung Halimun dengan puncak tertinggi di tengah-tengah Taman Nasional ini ( 1929 m).
Sebetulnya ada beberapa komunitas Kasepuhan lainnya di kawasan Taman Nasional ini, yaitu: Sirnaresmi, Ciptamulya, Cisitu, Cusungsang, Ciusul, Cibedug, Urug, Cicarucub, Bayah, dan Giru Jaya.. Komunitas di sini sudah lebih dulu ada sebelum kawasan ini dijadikan Taman Nasional. Bahkan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah sisa-sisa keturunan pasukan Pajajaran yang kemudian menyingkir ke hutan balantara Halimun karena serangan tentara Kesultanan Banten. Kepala adat Kasepuhan disebut Abah, yang merupakan keturunan Prabu Siliwangi yang saat ini dipimpin oleh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi.
Hal menarik di Kasepuhan Cipta Gelar ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Abah Ugi bahwa penanaman padi hanya ditanam satu kali dalam setahun. Berbeda dengan kawasan lain yang biasanya 1 tahun bisa mencapai 3 kali panen. Setiap hasil panen kemudian disimpan disebuah lumbung yang disebut Leuit di Jimat, yaitu sebuah lumbung komunitas yang menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat setempat. Menurut Abah Ugi bahwa lumbung ini adalah untuk persediaan makanan yang dapat menghidupi masyarakat kasepuhan selama 2 tahun.
Bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat lokal adalah bahasa Sunda dan mayoritas penduduknya beragama Islam walau masih terdapat yang menganut kepercayaan lama (sunda wiwitan). Masyarakat kasepuhan di TNGHS merupakan bagian dari warisan budaya nasional. Mereka masih memegang teguh adat kebudayaan nenek moyangnya terlihat dalam keseragaman kehidupan sehari-hari, arsitektur rumah, sistem pertanian dan interaksi dengan hutan. Untuk mencapai desa-desa tersebut dengan kendaraan umum, baik dari Jakarta atau Bogor, dibutuhkan waktu empat hingga delapan jam. Kadangkadang kita harus berjalan kaki satu atau dua jam karena kondisi jalan masih berbatu kasar.
Semangat bergotong royong masih sangat kuat di beberapa wilayah termasuk pada sistem bertani mereka. Sudah biasa masyarakat bekerjasama dalam keluarga dan tetangga apabila tenaga kerja, komoditas / bahan-bahan pertanian dan makanan tidak mencukupi.

Kehidupan sehari-hari masyarakat bergantung pada sistem pertanian tradisional. Masyarakat umumnya memanfaatkan hutan dan lahan dalam berbagai cara, yaitu seperti huma atau ladang, sawah, kebun, kebun talun dan talun. Adapun hasil utama pertanian masyarakat kasepuhan adalah padi lokal dan biasanya sebagai rasa syukur setiap selesai panen dilakukan pesta panen seren taun.
Pengetahuan dan penggunaan jenis-jenis padi lokal menunjukkan pentingnya beras sebagai bahan makanan pokok sehari-hari. Siklus penanaman secara tradisional adalah sebagai berikut: Setelah menebang hutan primer, hutan sekunder atau semak, lahan yang telah dibersihkan tersebut kemudian dijadikan huma atau ladang selama beberapa tahun. Di dataran tinggi padi ditanam sebagaimana halnya sayur-sayuran seperti : jagung, singkong ataupun kacangkacangan. Padi dipanen satu kali dalam setahun dan sayur-sayuran beberapa kali dalam setahun. Setelah panen, tergantung pada kondisi tanah, masyarakat memutuskan apakan berladang lagi atau tidak. Keputusan mereka berdasarkan pada kondisi kandungan air dalam lahan tersebut yang tergenang di atas tanah. Apabila air mencukupi maka mereka mengubah lahan tersebut menjadi sawah. Dengan demikian ekosistem alami menjadi hilang, karena sawah digarap terus menerus. Dan apabila air tidak mencukupi, maka lahan akan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak diubah menjadi jami (tanaman sekunder) untuk satu atau dua tahun. Di lahan ini padi tidak ditanam sama sekali, melainkan tanaman menahun (tanaman tahunan) yang ditanam. Setelah lahan digunakan ‘jami’, ada dua alternatif yang akan dipakai, pertama adalah meninggalkan lahan tanpa dipotong atau dibersihkan. Semak dibiarkan selama 3 – 4 tahun yang disebut ‘reuma ngora’ (semak belukar). Sedangkan semak yang dibiarkan selama lebih dari 4 tahun disebut ‘reuma kolot’ (hutan sekunder). Pembagian ini berdasarkan pada tahapan suksesi tumbuhan. Setelah itu, lahan tertutup secara alami menjadi hutan sekunder dengan pepohonan tinggi. Jadi siklus penggunaan hutan pun telah berakhir. Cara atau alternatif yang kedua adalah menggunakan lahan untuk kebun, yaitu setelah jami dipanen. Di kebun ini tanaman menahun ditanam untuk kebutuhan sehari-hari. Buah-buahan seperti pisang, durian, anakan pohon alami dan pohon-pohon yang pertumbuhannya cepat yang digunakan untuk konstruksi rumah serta tanaman berguna seperti bambu dan rotan juga ditanam untuk kebutuhan sehari-hari.
Setelah lahan digunakan untuk berkebun selama beberapa tahun, maka pohonpohon yang ditanam menjadi tinggi dan kebun ini disebut juga kebun talun. Pada lapisan bawah dari kebun talun, terus ditanami tanaman menahun. Dengan adanya suksesi pohon-pohon tersebut, kanopi pohon menjadi tertutup dan keadaan ini disebut talun. Pada tahap ini hanya ada beberapa tanaman menahun, karena di bagian bawah menjadi gelap. Masyarakat biasanya menanam buah-buahan seperti pisang dan durian, juga menyadap air nira dari pohon kawung (aren). Pengambilan air nira ini tidak hanya untuk dikonsumsi saja tetapi juga untuk dijual ke pasar.
Masyarakat kasepuhan menggunakan dan melindungi hutan berdasarkan konsep turun-temurun seperti adanya ‘leuweung titipan’ (hutan titipan), ‘leuweung tutupan’ (hutan tutupan) dan ‘leuweung sampalan’ (hutan bukaan). Mereka masih memiliki interaksi yang kuat dengan hutan sekitarnya. Mereka juga mempunyai pengetahuan etnobotani dan menggunakan tanaman atau tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. Mereka mengetahui lebih dari 400 jenis dan menggolongkannya berdasarkan penggunaannya seperti bahan bangunan, kayu bakar, bahan dan alat pertanian, obat-obatan, makanan, upacara adat dan lain-lain. Sejak dari dahulu hingga sekarang, pengetahuan tersebut sudah diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Hal ini jelas sekali bahwa masyarakat lokal masih mengandalkan pada tumbuhtumbuhan dari hutan. Dilemanya, dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di sekitar TNGHS baik yang masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang, saat ini penggunaan tumbuhtumbuhan dan satwa dari hutan sudah tidak sesuai dengan kondisi umum sumber daya hutan yang semakin terbatas, karena dapat mengancam keutuhan hutan dan sumber daya air masyarakat. Untuk itu ditetapkannya pengelolaan taman nasional agar dapat mengakomodir antara kebutuhan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan TNGHS dengan menetapkan adanya pembagian zonasi. Di dalam tatas-aktivitas di zona pemanfaatan, zona khusus dan zona penyangga. Seperti pengembangan kampung-kampung yang berorientasi konservasi dengan mengadakan berbagai aktivitas konservasi seperti penanaman pohon-pohon asli yang bermanfaat, energi alternatman nasional dibagi menjadi zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan dan zona khusus, sedangkan di luar taman nasional biasa ditetapkan sebagai zona penyangga. Dengan adanya zonasi dapat memberi kepastian bagi masyarakat untuk mengembangkan aktiviif, ekowisata dan program ekonomi berkelanjutan.
Secara jangka pendek aktivitas di atas dapat membantu masyarakat untuk menjalakan kehidupannya tanpa menyebabkan kerusakan hutan. Sedangkan dalam jangka panjang, kegiatan pendidikan lingkungan dan peningkatan kesadaran konservasi untuk masyarakat akan dapat menumbuhkan rasa menghargai terhadap kekayaan hutan sekitar mereka dan juga akan efektif bagi konservasi keanekaragaman hayati TNGHS di masa mendatang.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. System pengetauhan dan teknologi local merupakan suatu pengetahuan yang tumbuh dan berkembang secara local, merupakan perkembangan dari bagian keseluruhan tradisi masyarakat local itu.
2. System Pengetahuan local sebagai ekspresi budaya, yang tercermin dalam berbagai bentuk ekspresi budaya berbasis tradisi, bersumber dari keragaman yang luas, mulai dari kebiasaan, adat-istiadat, bentuk ekspresi artistic, pengetahuan, kepercayaan, proses dari suatu produksi, dan ruang yang berasal dari banyak komunitas.
3. Pengelolaan kawasan hutan yang dilakukan oleh masyarakat adat di gunung Halimun dibagi menjadi tiga zona:
o Leuweung Kolot/Geledegan/Awisan adalah kawasan mata air yang sama sekali tidak dapat diganggu untuk kepentingan apapun, harus selalu dijaga. Ada kepercayaan bahwa leuweung ini dijaga oleh hal yang tidak tampak oleh mata, siapa yang melanggarnya pasti akan tertimpa kemalangan (kabendon).
o Leuweung Titipan adalah suatu kawasan hutan yang diamanatkan oleh leluhur Kasepuhan Banten Kidul kepada para incu putu (warga Kasepuhan) untuk menjaga/tidak mengganggu kawasan hutan ini. Masyarakat percaya apabila ada yang memasuki kawasan ini tanpa seizin sesepuh maka akan mengalami gangguan secara gaib atau kualat (kabendon)dari leluhur.
o Leuweung Bukaan atau sampalan adalah suatu kawasan hutan yang sekarang telah terbuka dan dapat digarap oleh masyarakat dan masih dikelola untuk sawah, huma 7 dan kebun.

B. SARAN
1. Kearifan budaya local harus dipelihara oleh seluruh lapisan masyrakat
2. Keseimbangan hidup dengan alam harus dijaga agar alam tidak marah kepada kita
3. Masyarakat adat harus dipertahankan dan bukannya harus digusur sebab mereka lah yang benar-benar menjaga kearifan budaya leluhur dengan tidak merusak alam.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.tnhalimun.go.id/static/localcommunity.html
http://www.landcoalition.org/cd_ILC/cd_commons/doc_case/CPR07_Case28_Indonesia_Santosa_et_al_bhs_Indonesia.pdf
http://www.wg-tenure.org/file/Warta_Tenure/Edisi_02/Warta_Tenure_Edisi_2f_halimun.pdf
http://harjo.wordpress.com/2008/10/13/serentaun-budaya-kasepuhan-banten-kidul-di-gunung-halimun/
http://gulasemutaren.blogspot.com/2008/09/kawasan-ekosistem-halimun.html
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_halimun.htm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: