Oleh: melanirahayuningsih | Maret 30, 2011

dampak industrialisasi terhadap pergeseran nilai sosial masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam masyarakat kita sering mendengar tentang sistem nilai yang merupakan konsensus yang dijadikan pegangan hidup untuk bersosialisasi. Namun seiring perkembangan zaman dan akibat dari globalisasi serta industrialisasi dalam masyarakat maka tata nilai tersebut sudah mulai bergeser. Masyarakat sudah tidak lagi menginginkan suatu kehidupan bersama dan lebih menginginkan kehidupan yang individualis.
Menurut Koentjaraningrat (1990:25) mengemukakan bahwa sistem nilai merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu sistem nilai terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai biasa berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem-sistem tata kelakuan manusia lain yang tingkatannya lebih konkret, seperti aturan-aturan khusus, hukum dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai itu.
Sistem nilai di dalam masyarakat senantiasa berubah akibat adanya perubahan sosial. Menurut Effendi dan Ridwan (2007: 60), perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuaian antara unsur-unsur sosial yang ada dimasyarakat sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan.
Industrialisasi sekarang merupakan sebuah trend yang sedang berkembang pada masyarakat. Hal tersebut dikarenakan semakin banyak pabrik yang tidak sesuai fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan.
Perubahan dalam masyarakat tersebut diakibatkan oleh industrialisasi ternyata membawa dampak bagi masyarakat sekitar daerah industri. Industri dibangun untuk mengurangi angka pengangguran sehingga mengurangi jumlah penduduk miskin di Indonesia.
Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tercatat pada Februari 2010, jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sekitar 370 ribu jiwa dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 670 ribu jiwa. Data tersebut menunjukan bahwa terjadi perubahan yang cukup signifikan dari tahun 2009 hingga tahun 2010 dan terlihat pemerintah sudah mampu mengatasi permasalahan pengangguran di Indonesia. Namun, pada kenyataannya sangat berbalik dengan data yang terdapat di lapangan, berdasarkan data penduduk miskin di Kabupaten Bandung Barat berjumlah 450.000 jiwa penduduk miskin dari jumlah penduduk saat ini yaitu 1.500.000 atau sekitar 30% jumlah penduduk di Kabupaten Bandung Barat .
Desa Giri Asih yang merupakan salah satu daerah industri yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat yang memiliki jumlah penduduk 8.904 jiwa dan tingkat kemiskinan sekitar 1.614 jiwa atau sekitar 18,13% (data wawancara dengan perangkat desa). Padahal pembangunan industri di daerah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi jumlah pengangguran namun pada kenyataannya ternyata tidak semua tenaga kerja lokal dapat terserap dalam industri. Akibatnya adalah jumlah pengangguran tetap saja tinggi dan tingkat kemiskinan pun dikatakan tetap tinggi di desa tersebut.
Penyerapan tenaga kerja lokal yang rendah mengakibatkan terjadinya peningkatan jumlah pengangguran di desa. Padahal jika dilihat maksud pendirian industri adalah untuk mengurangi jumlah pengangguran di daerah tersebut. Sehingga dengan data yang ada ini maka terlihat adanya ketidak tercapaian dari pembangunan industri di Desa Giri Asih, Batujajar.
Pembangunan industri juga menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan pergeseran nilai pada masyarakat desa setempat. Salah satu pergeseran nilai yang terjadi pada masyarakat setempat adalah terjadinya perubahan dalam hal pergeseran nilai ikatan kekeluargaan dalam keluarga di antar anggota masyarakat. Nilai ikatan kekeluargaan kini tidak lagi begitu kuat sebagaimana dahulu. Arus urbanisasi menyebabkan terjadinya perubahan sikap anggota masyarakat terhadap hubungan antar sesamanya. Masyarakat lebih melihat sisi ekonomis dari suatu hal daripada melakukan kegiatan gotongroyong seperti yang dilakukan oleh para pendahulu mereka. Hal tersebut tak lepas dari masuknya pendatang kedaerah tersebut. Pendatang membawa dampak bagi perubahan yang terjadi pada masyarakat desa tersebut. Akibat banyak pendatang yang masuk ke desa maka tata nilai dan pergaulan juga akan berubah. Perubahan tersebut tidak mampu dihindarkan akibatnya tata nilai dalam masyarakat pun berubah. Pergeseran nilai kekeluargaan dalam masyarakat juga terlihat dengan adanya saling memperebutkan wilayah daerah tersebut. Antara warga desa satu dengan warga desa yang lainnya saling bersaing untuk mempertahankan wilayahnya masing-masing. Akibat dari perbuatan tersebut maka nilai kekelurgaan antar anggota masyarakat juga semakin bergeser dan masyarakat sudah tidak lagi saling peduli satu sama lain. Akibatnya sistem kekerabatan pun mulai memudar. Antar anggota masyarakat mulai memiliki sikap saling tidak perduli satu sama lain. Bahkan dalam keluarga pun dapat dikatakan nilai-nilai dalam kebersamaan mulai bergeser. Antar anggota keluarga mulai jarang melakukan komunikasi satu sama lain akibat kesibukan masing-masing anggota keluarga. Apalagi jika dalam keluarga tersebut kedua orangtua sibuk bekerja sehingga menyebabkan anak menjadi kurang perhatian dari orangtuanya yang sibuk bekerja sehingga berakibat kepada beralihnya perhatian anak dari orangtua dan lebih mementingkan kegiatan diluar rumah
Bukan hanya pergeseran nilai kekeluargaan saja yang terjadi setelah adanya industrialisasi. Permasalahan lain yang muncul akibat adanya industrialisasi didaerah tersebut adalah perubahan gaya hidup kekota-kota an yang dilakukan oleh masyarakat desa akibat arus urbanisasi dari pendatang yang masuk ke desa tersebut sebagai pegawai pabrik. Gaya hidup kekota-kota an ini tidak sesuai dengan gaya hidup masyarakat desa yang terbilang sederhana. Gaya hidup kekota-kota an tersebut bukan hanya gaya hidup positif namun juga gaya hidup negatif. Gaya hidup positif yang diadopsi oleh masyarakat desa adalah pembagian sistem kerja yang jelas yaitu yang sesuai dengan keahlian dan keprofesionalan pada bidangnya masing-masing, sadarnya masyarakat desa akan pentingnya pendidikan, terbuka terhadap kebudayaan-kebudayaan baru selain itu masyarakat desa menyadari akan hak-hak dan kewajiban-kewajiban serta kehormatan pihak lain sehingga tidak ingin mencampuri permasalah yang tidak ada hubungan dengan dirinya. Hal tersebut tergambar dalam table berikut :
Table 1.1
Bentuk Pergeseran Nilai di Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar
NO Bentuk Pergeseran Nilai Keterangan
1 Melemahnya ikatan kekeluargaan Antar warga saling mempertahankan wilayahnya masing-masing (sekitar 60%)
2 Judi dan mabuk Secara tersembunyi (sekitar 20%)
3 Melemahnya solidaritas antar warga Warga kurang memperhatikan lingkungan
(sekitar 60%)
Sumber : Wawancara Kepala Bagian Pemerintahan Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat

Namun ternyata ada dampak negatif juga yang ditimbulkan oleh industrialisasi seperti yang terungkap dari pra penelitian yang dilakukan terhadap perangkat desa setempat yang tergambarkan seperti table 1.1 diatas. Berdasarkan data yang didapat dari lapangan tersebut maka hal tersebut merupakan sebuah permasalahan sosial yang tersembunyi serta kurangnya informasi dari perangkat desa karena hal tersebut dilakukan secara tersembunyi.
Menurut Kartono Kartini (1981:1), permasalahan sosial merupakan semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan, dan hukum formal. Permasalahannya adalah apakah ada usaha yang dilakukan oleh masyarakat desa dan perangkat desa setempat untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh industrialisasi terhadap pergeseran nilai sosial yang terjadi pada masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Berdasarkan pemaparan latarbelakang diatas maka penulis mengajukan permasalah dengan judul “DAMPAK INDUSTRIALISASI TERHADAP PERGESERAN NILAI SOSIAL PADA MASYARAKAT DESA GIRI ASIH, KECAMATAN BATUJAJAR, KABUPATEN BANDUNG BARAT.”

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut peneliti merumuskan masalah pokok dalam penelitian ini adalah: “Bagaimanakah dampak yang diakibatkan oleh industrialisasi bagi masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat terhadap pergeseran nilai sosial yang terdapat pada masyarakat desa tersebut?”. Untuk memudahkan penganalisaan hasil penelitian ini maka pokok permasalahan dijabarkan dalam beberapa sub masalah sebagai berikut, yaitu :
1. Faktor apa saja yang menyebabkan pergeseran nilai kebersamaan antar masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat?
2. Apa saja dampak positif dan dampak negatif pembangunan industri di Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat?
3. Bagaimana upaya perangkat desa dan masyarakat untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan akibat industrialisasi?
Sub-sub permasalahan tersebut dapat dijadikan pertanyaan pokok permasalahan.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergeseran nilai sosial yang terjadi pada masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat
2. Tujuan Khusus.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
a. Mengetahui faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai sosial pada masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
b. Mengetahui dampak industrialisasi terhadap pergeseran nilai sosial pada masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
c. Mengetahui upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan perangkat desa untuk mengurangi dampak negatif di bangunnya industri bagi masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang industrialisasi serta diketahuinya pergeseran nilai sosial pada masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

2. Secara Praktis
a) Diketahuinya faktor penyebab pergeseran nilai sosial pada masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Badung Barat.
b) Diketahuinya dampak industrialisasi terhadap pergeseran nilai sosial pada masyarakat Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat
c) Diketahuinya upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan perangkat desa untuk mengurangi dampak negatif dibangunnya industri bagi masyarakat desa.

E. Definisi Operasional
1. Industrialisasi
Industrialisasi (Sitti Maria, 1996: 2) merupakan gejala dari kebudayaan yang memiliki cara berpikir sendiri, struktur sosial sendiri dan norma sosial sendiri. Akan tetapi di dalam prosesnya, industrialisasi menciptakan kondisi dan kebutuhan akan barang dan jasa dalam corak baru, serta mendorong adanya penyerapan tingkah laku dan orientasi nilai-nilai baru, serta menghasilkan adanya pembagian sosial yang baru pula.
2. Nilai Sosial
Nilai Sosial (Koentjaraningrat, 1990:25) adalah konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus pikiran mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai sosial berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.

3. Masyarakat
Masyarakat menurut Krech seperti yang dikutip Ridwan Effendi (2007:45) adalah kelompok yang bercirikan oleh interaksi,kegiatan, tujuan, keyakinan, dan tindakan sejumlah manusia yang sedikit banyak berkecenderungan sama. Dalam masyarakat tersebut terdapat ikatan-ikatan berupa tujuan, keyakinan, tindakan terungkap pada interaksi manusia.

F. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi merupakan alat ilmiah untuk menguji suatu hipotesis, bahkan bisa memunculkan konsep dan teori baru seperti halnya kuisioner. Observasi merupakan pengamat pada objek yang diamati. (Prof. Dr. H. Endang Danial dan Nanan Warsiah, 2009: 78)
2. Wawancara kepada masyarakat dan aparat perangkat desa setempat
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interview) yang mengajukan pertanyaan dan yang di wawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moeleong, 2007:150).

3. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dengan menggunakan sumber-sumber buku yang relevan dalam penelitian ini. Studi kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan sejumlah buku-buku, majalah, liflet, yang berkenaan dengan masalah dan tujuan penelitian. (Prof. Dr. H. Endang Danial dan Nanan Warsiah, 2009:80)
4. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi adalah mengumpulkan sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi sesuai dengan masalah penelitian, seperti peta, data statistik, data siswa dan sebagainya. (Prof. Dr. H. Endang Danial dan Nanan Warsiah, 2009:79)
Penggunaan studi dokumentasi (data instansi pemerintah, terbitan-terbitan artikel baik dari majalah maupun koran, cuplikan-cuplikan serta penggalan catatan-catatan dari buku-buku).

G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Teknik pengolahan data yang dipersiapkan dalam penelitian ini antara lain:
a) Melakukan pengamatan secara seksama
Pengamatan secara seksama dilakukan secara terus menerus untuk mendapatkan gambaran nyata tentang keadaan masyarakat desa setempat secara mendalam dan terperinci.

b) Triangulasi data
Teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut Patton terdapat empat macam cara triangulasi yaitu triangulasi data, triangulasi pengamat, triangulasi teori, triangulasi metode, dan membuat kesimpulan dan verifikasi.
c) Reduksi data
Dengan cara data yang didapat dari lapangan ditulis atau diketik dalam bentuk uraian atau laporan terinci. Sehingga laporan lapangan sebagai bahan mentah disingkatkan, direduksi, disusun, lebih sistematis, ditonjolkan pokok-pokok yang penting, diberi susunan yang lebih sistematis sehingga mudah dikendalikan.
d) Display Data
Melihat gambaran keseluruhan dari penelitian, harus diusahakan membuat matriks, grafiks, network dan charts. Dengan demikian peneliti dapat menguasai data dan tidak tenggelam dalam tumpukan detail.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: