Oleh: melanirahayuningsih | November 30, 2010

UTS Filsafat Hukum 1-5

1. Kemukakan ciri-ciri metode berpikir dalam filsafat hukum
Jawab :
o Berfikir holistik maksudnya adalah berfikir secara menyeluruh dimana seseorang diajak untuk berwawasan luas dan terbuka, sehingga mereka diajak untuk menghargai pemikiran orang lain
o Berfikir kritis dan radikal artinya berfikir tidak hanya dalam arti hukum positif semata namun hingga keakar-akar nya selain itu senantiasa mempertanyakan sesuatu dan tidak pernah puas
o Berfikir dengan sifat spekulatif tindakan yang terarah, yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan berpikir spekulatif (dalam arti positif) itulah hukum dapat dikembangkan ke arah yang dicita-citakan bersama.
o Reflektif kritis untuk membimbing kita menganalisis masalah-masalah hukum secara ras ional dan kemudian mernpertanyakan jawaban itu secara terus menerus.
o Koheren=Runtut; konsisten; tidak acak; tidak kacau; dan tidak fragmentaris
o Rasional= Sesuai dengan nalar; hubungan logis antar bagian-bagian
o Komprehensif= Menyeluruh; tidak parsial; tidak fragmentaris
o Universal= Berlaku dimanapun; kapanpun; dalam situasi bagaimanapun
o Spekulatif= Kebenarannya bersifat dugaan, tapi rasional
o Sistematis= Ada hubungan antar unsur; keseluruhan runtut
o Bebas= Tidak terkekang; kreatif.
2. Kajian utama filsafat hukum, alasan mengapa perlu dikaji, kapan filsafat hukum digunakan dalam kajian masalah hukum?
Jawab :
Kajian utama dari filsafat hukum adalah pengertian hukum, cita dan tujuan hukum, berlakunya hukum, dan pelaksanaan hukum sehingga dapat dikatakan kajian filsafat hukum adalah pembahasan secara filosofis tentang hukum yang sering disebut dengan Jurisprudence. Menurut Soetikno, mencari hakikat dari hukum, dia ingin mengetahui apa yang ada dibelakang hukum, mencari apa yang tersembunyi di dalam hukum, dia menyelidiki kaidah-kaidah hukum sebagai pertimbangan nilai, dia memberi penjelasan mengenai nilai, postulat (dasar-dasar) sampai pada dasar-dasarnya, ia berusaha untuk mencapai akar-akar dari hukum.
Hal tersebut perlu dikaji oleh filsafat hukum karena bahasan utama dari filsafat hukum adalah hal-hal paling mendasar tentang hukum itu sendiri sebab berbicara tentang filsafat hukum maka kita tidak akan pernah lepas dari nilai, postulat dan kaidah-kaidah dari hukum.
Filsafat hukum dipergunakan dalam suatu praktek hukum yang konkret dalam sebuah kaedah hukum yang baku. Sehingga pada akhirnya filsafat tersebut telah dibakukan terlebih dahulu dalam sebuah kaedah hukum.
3. Mengapa penegakan hukum tidak kunjung tegak , dilihat dari filsafat hukum?
Jawab :
Pada dasarnya hukum dibuat sebagai pemenuhan asas legalitas serta kemakmuran secara menyeluruh. Namun pada kenyataannya, masih banyak produk hukum yang tumpang tindih dan tidak mengikuti sistem yang baku selain itu banyak pihak menilai ada pasal yang tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Bukan hanya itu, proses penegakkan hukum masih diskrimitatif dan tidak konsisten serta parameter yang digunakan tidak objektif dan cendrung mengedepankan kepentingan kelompok tertentu. Jika dilihat dari filsafat hukum Filsafat hukum mempelajari hukum secara spekulatif dan kritis artinya filsafat hukum berusaha untuk memeriksa nilai dari pernyataan-pernyataan yang dapat dikatagorikan sebagai hukum ;
• Secara spekulatif, filsafat hukum terjadi dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan mengenai hakekat hukum.
• Secara kritis, filsafat hukum berusaha untuk memeriksa gagasan-gagasan tentang hukum yang sudah ada, melihat koherensi, korespondensi dan fungsinya
Maka, bila dikaji lebih dalam maka untuk menegakan hukum maka terlebih dahulu harus menciptakan sebuah produk hukum yang tidak tumpang tindih antara satu produk dengan produk hukum yang lain, selain itu sebuah produk hukum juga tidak lepas dari filsafat hukum yang akan mengkaji dan mengkritisi tentang sebuah gagasan hukum yang sudah ada.
4. Kemukakan mengapa dalam praktek hukum, hukum makin jauh dari keadilan, bagaimana pemecahannya?
Jawab:
Hukum yang pada awalnya untuk menciptakan keadilan justru pada kenyataannya sulit untuk mencapai suatu keadilan tersebut. Hal demikian disebabkan oleh beberapa hal yaitu masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang sistem peradilan, sistem peradilan yang belum transparan dan akuntabel serta birokrasi peradilan yang mahal dan berbelit-belit.
Pemecahan yang dapat diambil untuk menyelesaikan permasalahan tersebut antara lain:
1. Mentalitas Petugas yang menegakkan hukum.
Penegak hukum antara lain mencakup hakim, polisi, jaksa, pembela, petugas pemasyarakatan, dan seterusnya. Apabila peraturan perundang-undangan sudah baik, akan tetapi jika mental penegak hukum kurang baik, maka akan terjadi pada sistem penegakkan hukum. Sehingga mentalitas petugas harus dibenahi agar hukum dapat berdiri dengan tegak
2. Fasilitas yang diharapkan untuk mendukung pelaksanaan hukum.
Kalau peraturan perundang-undangan sudah baik dan juga mentalitas penegaknya baik, akan tetapi fasilitas kurang memadai, maka penegakkan hukum tidak akan berjalan dengan semestinya.
3. Kesadaran dan kepatuhan hukum dari para warga masyarakat.

5. Kemukakan keterkaitan antara filsafat dan filsafat hukum dan teori hukum, gambarkan secara skematik dan jelaskan!
Jawab :
Keterkaitan antara filsafat dan filsafat hukum dan teori hukum jika digambarkan secara skematik akan sebagai berikut :

Berdasarkan bagan diatas maka terlihat bahwa filsafat hukum merupakan bagian dari filsafat yang objek utamanya adalah hukum. Bagan tersebut merupakan suatu rangkaian yang tak terpisahkan antara filsafat hukum, Perkembangan ilmu hukum diawali oleh filsafat dan disusul oleh dogmatik hukum (ilmu hukum positif). Diantara keduanya terdapat perbedaan yang tajam. Filsafat hukum sangat spekulatif, sedangkan hukum positif sangat teknis. Sehingga untuk menjebatani keduanya diperlukan teori hukum yang semula berbentuk ajaran hukum umum (algemene rechtsleer). Teori hukum berfungsi untuk mempelajari tentang pengertian-pengertian pokok dibidang hukum seperti subjek hukum, perbuatan hukum, objek hukum, peristiwa hukum, badan hukum dan juga mempelajari sistematika hukum. Dogmatik hukum (ilmu hukum positif), teori hukum, filsafat hukum pada akhirnya harus diarahkan kepada praktik hukum. Praktik hukum menyangkut dua aspek utama, yaitu pembentukan hukum dan penerapan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: